Monday, August 08, 2011

VANESSA & TAS SEKOLAH


Bungsuku Vanessa, bisa di bilang agak-agak chuby. Jadi kalau masih minta susu, aku suka mengatakan tidak dengan alasan nanti gendut loh!. Padahal aku tahu susu tidak membuat gendut. Persoalannya, Van bisa minta susu walau baru menghabiskan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk.

Hari ini karena ada English Club, Van dan kakaknya Bas baru tiba di rumah menjelang pukul 15.00. Kebayang deh cape dan lapar karena mereka bangun sejak pukul 5 pagi.

Makan siang sudah sedia. Setelah mereka mencucui tangan dan berganti pakaian, keduanya langsung menyantap apa yang sudah aku sediakan. Selesai makan, Bas langsung tidur sedangkan Van masih minta Es bon bon.

Waktu berjalan cepat, tahu-tahu sudah mendekati pukul 16.00 sore dan Vanpun aku larang untuk tidur karena kalau Van tidur. ia akan bangun pukul 20.00 malam, alamat aku bergadang menemaninya.

Maka aku meminta Van untuk menyiapkan buku pelajaran, sekaligus mengecek agenda untuk besok. Ternyata ada ulangan matematika. sekitar 15 menit Van berkutat di depan meja belajar, aku menikmati sinetron Korea "You are my destiny".

Tiba-tiba Van masuk dan bertanya:

"Ma, timbangan badan dimana sih?"

"Di bawah tempat tidur di kamar sebelah." Jawabku.

Aku jadi tersenyum, tumben Van ingin tahu berat badannya. Sebenarnya sejak mereka kecil, aku rutin menimbang berat badan mereka untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan badannya. Maklum sebagai ibu bekerja, aku tak bisa sepenuhnya memperhatikan asupan makanan mereka. Satu-satunya yang kupegang sebagai indikasi adalah pertambahan berat badan mereka setiap bulan.

Van termasuk anak yang tumbuh dengan baik. Berat badannya pun bertambhan dengan baik. Beda dengan kakaknya yang memang susah makan. Bertambah satu dua ons berat badan buat Bastiaan, sudah lumayan.

Ku dengar Van memanggilku dari kamar sebelah:

"Ma, lihat deh ini berapa beratnya?"

Karena tidak mau ketinggalan sinetron aku menjawab: "Van saja yang ke sini, bawa timbangannya.

Van datang dan meletakan timbangan di dekatku. Ku pikir ia akan segera menaiki timbangan, eh Van lari ke kamar sebelah lagi. Tak lama Van muncul, kali ini ia membawa tas sekolahnya.

"Van, kalau mau timbang jangan bawa tas sekolah dong!" tegurku

"Ah mama, ya aku tahu lah ma!" Jawab Van. Lalu ia meletakkan tas sekolahnya di atas timbangan . "Coba, mama lihat berapa beratnya?" ujar Van.

Aku mendekati timbangan dan melihat, jarum timbangan bergerak diantara angka 15-16 kg.

"Isinya apa Van? Mengapa berat begitu?" tanyaku heran

"Ya, bukulah ma!" Jawab Van

"Mama juga tahu Van, tapi apa buku buat satu hari sekolah?" tanyaku lagi.

"Ya, iyalah ma!" Jawab Van sambil dengan gemas mencubit kedua pipiku.

Uh, pantaslah kalau setiap pagi saat mau berangkat sekolah, Van nampak enggan membawa tasnya. Biasanya ia akan minta papanya membawakannya.

Buku apa saja sebanyak itu yang harus di bawa? tanyaku dalam hati. Pantaslah banyak anak sekolah tidak lagi mengalungkan tas di pundak atau menggendong ransel di punggung. Kebanyakan di tarik atau di bawakan para pengasuh/penjemputnya. Lah memang tasnya berat sekali. Yang sabar ya cantik! Doa mama selalu untuk kamu..

Catatan harian, Senin 8 Agutus 2011.


Bastiaan, Matahari Kehidupanku



by Elisa Koraag on Wednesday, July 27, 2011 at 7:12am

Bastiaan, sulungku.

Pk. 5.15 pagi tadi hari ini 27 Juli 2011

genap 11 tahun usiamu

tanda kehidupanmu di rahimku

adalah hadiah ulang tahun dari Tuhan

Di usia yang sudah tidak muda lagi

kau hadir memberi pengharapan luar biasa

tak cukup kata tuk ungkapkan bahagia ini

Tuhan mau mempercayai mama dan papa

tuk merawat dan membesarkanmu

Sosokmu mungil,

dengan panjang 49 cm dan berbobot hanya 2,8 kg

kau hanya sebesar termos.

tubuhmu hanya tulang berbalut kulit

namun mata kecilmu memancar sorot kuat

seakan ingin kau teriakan

Aku datang...!

Lebih dari 12 jam mama harus bertaruh nyawa

lewat operasi, kau hadir ke dunia

Tak kuasa mama menahan haru

kala melihat tubuh mungilmu dalam pelukan papa

Terima kasih Tuhan, untuk dua jagoanku

Bastiaanku, matahari kehidupanku

Hadirmu dalam hidupku

memberi kehangatan dan optimisme

tak ada yang tak mungkin dalam kuasa Tuhan

Satu cirimu yang tak pernah hilang

senyum kecilmu setiap bangun tidur

seakan selalu terbangun dengan mimpi indah

Bastiaan, sulungku

Kalau orang bilang tak terasa 11 tahun bersamamu

itu salah bagiku.

Hari-hari bersamamu adalah hari-hari yang hangat

omelan dan cerewetku adalah nyanyian merdu telingamu

jejak hari kehari tak pernah hilang walau sekejap

sosokmu adalah bagian dari jiwaku

Marahku adalah bagian dari kasihku

Jangankan luka, sedihmu adalah dukaku

Bastiaanku,

bertumbuhlah besar dan kuat dalam jalan Tuhan

Jadilah apa yang kau inginkan

Songsonglah masa depan dengan keyakinan teguh

Tuhan bersamamu

Doa dan cinta mama, papa dan Van

akan selalu mengiringi tiap langkahmu

Kami semua mencintaimu

Selamat ulang tahun, jagoanku!

Mama

Icha Koraag

27072011

Tuesday, May 18, 2010





JURNAL HARIAN BAS DAN VAN

Masih seputar cara kreatif mendidik anak. Sebagai ibu bekerja, waktu saya sangat terbatas untuk anak-anak. Bukan sekali dua kali, saya harus mengusap dada karena laporan demi laporan dari anak-anak. Memiliki satu anak, mungkin sepi. Memiliki dua anak bukan mungkin ramai tapi pasti ramai!.

Karena selalu saja, yang satu menjadi si iseng dan yang satu menjadi si pengadu. Yang satu superior dan yang satu inferior. Setiap kali berhadapan dengan anak-anak yang siap mengadu, saya selalu menarik nafas panjang seraya berseru “ Tuhan berikan aku kesabaran seluas samudra!”
Habis itu, duduk dan memberi kesempatan anak-anak bergantian berbicara atau tepatnya melaporkan. Biasanya si adik, akan melaporkan kejadian yang dialami dan yang diamati. Giliran si kakak memberikan alasan atau mematahkan laporan si adik.

Lucunya, keduanya agak malas bercerita kalau ditanya mengenai apa yang dipelajari di sekolah. Si bungsu Vanessa, perempuan 7 tahun, masih lebih mau bercerita tentang apa yang dipelajari atau bagaimana kawan-kawan dan gurunya. Sedangkan si kakak Bastiaan laki-laki 10 tahun. Hanya akan menjawan dengan jawaban pendek.

Hingga suatu hari saya membelikan masing-masing satu buah bloknote bergambar toko jagoan (Batman) untuk si kakak dan gambar Barbie untuk si adik.Saya meminta mereka menuliskan semua yang mereka alami, lihat dan rasakan seharian. Juga keinginan-keinginan mereka. Dengan janji mama tidak akan bertanya seputar sekolah dan kegiatannya. Van dan Bas tidak lagi melaporkan kejadian dalam keseharian secara verbal.

Pertama membaca jurnal harian keduanya, geli benar rasa hati ini. Namun sebuah kebanggaan mengalir hangat di relung hati. Keduanya mampu menuangkan dalam bentuk tulisan walau dengan segala keterbatasan kemampuan mereka dalam berbahasa.
Tulisan Bastiaan,
Kamis, 4 Februari.
Aku sekolah bersama adik diantar papa naik motor. Sedikit basah karena gerimis. Tiba di sekolah tidak terlambat, terus aku langsung masuk kelas. Jam istirahat aku ditendang sama Mathew di bagian perut, keras sekali. Aku kesakitan dan aku menangis. Terus aku lapor sama bu guru . Mathew dipanggil lalu disuruh minta maaf. Aku memaafkannya terus kami kembali bermain bersama.

Membaca jurnal Bastiaan, saya gemas, marah dan kesal. Karena Jurnal itu saya baca 2 hari kemudian dari saat Bas menulisnya. sayamemang tidak berniat membaca rutin karena saya tidak ingin Bas atau Van merasa saya mengawasi mereka. Saya akan membaca kalau mereka menyodorkan jurnal mereka.

Bayangkan seandainya terjadi sesuatu pada Bas dan saya tidak tahu. Saya akan menyesal seumur hidup. Sejak itu saya memutuskan membaca Jurnal mereka setiap hari tanpa sepengetahuan mereka. Menindaklanjuti kejadian Bas ditendang Mathew, saya membicarakan hal ini dengan papanya. Saya minta papanya berbicara dengan Mathew. Sementara saya berbicara dengan Bas.
Saat asyik menemani mereka belajar, saya memulai pembicaraan.
“Kak, kemarin di tendang Mathew?” Tanya saya sesantai mungkin
“He he” jawabnya sambil tetap mengatur buku.
“Sakit?” Tanya saya
“Sakitlah, aku sampai nangis!” Jawab Bas tetap tenang
“Emang kakak lagi apa, sampai di tendang Mathew?” Tanya saya lagi
“ Lagi bercanda, lari-lari” Jawab Bas lagi
“Mathew gak sengaja nendangnya?” Tanya saya
“Sengajalah. Dia datang ke aku terus langsung nendang!”
“Sebelumnya kakak bikin apa sama Mathew?” Tanya saya lagi.
“Gak bikin apa-apa Ma. Mathew aja lagi ngaco!’ jawab Bas.
“Kakak bilang sama ibu guru?” Tanya saya
“Iya, Mathew dipanggil, dimarahin terus suruh minta maaf sama aku!’ Ujar Bas
“Terus sekarang masih sakit?” tanyaku
“Sudah enggak. Aku kuat!’ Jawab Bas.
“Coba peluk mama dulu!’ Pinta saya sambil membuka lebar kedua tangan. Bas menghampiri dan masuk dalam à°¦ేà°•à°ªాà°¨్ saya.
“Anak mama hebat tapi bilang sama Mathew, mama dan papa akan marah sekali kalau Mathew menendang Bas lagi!” ujar saya ditelingan Bas. Bas tak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya.

Lain Bastiaan. Lain Vanessa. Si bungsu ini lebih banyak mengekpresikan keinginan-keinginan dalam jurnal hariannya.
Tulisan Vanessa
17 Maret 2010. Hari Rabu.
Hari ini ulang tahun Bang Eki. Dia adalah abang sepupuku yang sudah meninggal 12 Desember 2009. Kata mama kita tidak merayakan ulang tahun orang yang sudah meninggal. Jadi hari ini kami tidak ke rumah Ibu Tiwi Nanti hari Sabtu baru kami akan ke rumah Ibu Tiwi untuk mengenang 100 hari meninggalnya Bang Eki. Aku sedih, aku sayang Bang Eki. Tapi Bang Eki sudah di kubur. Aku ingin lihat Bang Eki tapi tidak bisa. Aku ingin Ibu Tiwi tidak sedih lagi tapi aku saja masih sedih. Tuhan, jaga Ibu Tiwi yah.
Note: (Ibu Tiwi adalah kakak saya no 5. Karena bungsunya bernama Tiwi, maka anak-anak saya memabahasakan kakak saya dengan Ibu Tiwi)
Entah mengapa ada kebahagiaan sendiri membaca jurnal anak-anak. Saya yakin dengan kemampuan mereka menuliskan apa yang mereka lihat, dan rasa, akan memperkaya dan meningkatkan kemampuan mereka terhadap bahasa dan berbicara. Dan yang lebih menyenangkan lagi, kegiatan lapor melapor sedikit berkurang.

Friday, December 04, 2009

Thursday, September 04, 2008

APA ARTINYA JANGAN DITANYA?

Pertanyaan di atas, gampang-gampang sudah menjawabnya. Arti jangan di tanya secara harfiah ya, jangan bertanya. Bingung? Akan lebih membingungkan lagi kalau yang bertanya anak 5 tahun.

Oh yah, sudah lama aku tidak berbagi kisah tentang aku dan keluargaku termasuk kedua buah hatiku Bas dan Van. Kini kegiatanku sehari-hari tetap di mulai pukul 5 pagi. Sama seperti ketika aku masih bekerja kantoran. Cuma kali ini aku lebih berkonsentrasi menyiapkan perlengkapan dan keperluan suami serta kedua anakku yang akan ke kantor atau ke sekolah.

Kesibukan mengurus rumah membuat aku jarang mempostingkan tulisanku di email group maupun diblog tapi aku menuliskannya di diary. Seperti jaman remaja dulu. Soalnya kalau aku mulai duduk di computer, ke dua anakku akan sama sibuknya mengelilingiku di computer. Jadi aku membiarkan mereka di computer dan aku dengan diaryku.

Tulisan ini, ku ambil dari catatanku minggu lalu menjelang awal ramadhan. Cuaca di sekitar Jakarta sangat panas, sehingga aku banyak mengkonsumsi air es. Akibatnya tenggorokkanku meradang. Padahal akhir bulan Agustus, kami punya rencana berkumpul dengan keluarga mertua untuk munggah puasa.

Karena radang tenggorokan ini diikuti demam, terpaksalah aku tinggal di rumah. Suamiku membawa ke dua anakku berkumpul dengan keluarga besarnya. Sungguh tidak menyenangkan seorang diri dalam keadaan sakit. Namun tidak ada pilihan ya jadi harus di jalani.

Menjelang malam, suami dan kedua anakku pulang. Aduh senangnya melihat mereka. Padahal tiap hari dengan aktivitas sekolah dan kantor, aku bertemu mereka juga hanya beberapa jam dalam sehari. Namun kepergian mereka kemarin sungguh membuatku kesepian.

Setelah kedua anakku membersihkan diri, mereka naik ke tempat tidur menemaniku. Bas, berinisiatif memijit kaki dan tanganku, sedangkan Van menghiburku dengan ceritanya. Aku bertanya, siapa saja yang hadir, apa yang mereka lakukan. Van, bagaikan seorang reporter, melaporkan secara detil, siapa-siapa saja yang hadir. Juga apa yang mereka makan atau lakukan.

Akhirnya lelah bercerita, kantukpun datang menggoda. Van masih dengan kebiasaan lamanya memegang sebagian rambutku, lalu dipilin-pilin dengan jemari mungilnya. Tiba-tiba ia bertanya. :”Ma, apa sih artinya jangan di tanya?”. Aku agak terkejut dan bingung. “Maksudnya apa Van?” balasku balik bertanya.

“Misalnya gini, ada yang tanya. Vanessa kalau tidur masih pegang rambut?” terus papa menjawab: Hmmm jangan di tanya!”

Kontak tawaku meledak. Aku yang memunggungi Van langsung berbalik dan memeluknya. Tawaku masih penuh, ketika Van dengan suara polosnya kembali bertanya” Kok mama tertawa?” Aku terdiam dan merenung. Sesaat aku menatap wajahnya yang penuh tanda tanya. Geli rasanya hati ini.

“Van, jawaban papa “Jangan di tanya!” Sebenarnya hanya kiasan atau perumpamaan. Mama susah menjelaskan karena Van belum belajar. Tapi lebih kurang maksud jawaban “Jangan ditanya”, artinya Vanessa memang masih pegang rambut kalau mau tidur. Jadi tidak usah di tanya karena jawabannya ya masih!”

Aku tidak tahu, Van mengerti atau tambah bingung karena ia hanya diam dan seperti berpikir. Tiba-tiba ia berkata: “Kalau ada yang tanya “mama masih suka spaghety?” maka aku jawabnya hmm jangan di tanya!”

“Tepat. Persis seperti itu!” Jawabku. Aku senang karena lebih kurang Van memahami penjelasanku. Lalu Van melanjutkan lagi. :”Kakak Bas masih sering main Play Station?” hmmmm jangan ditanya!” Ujarnya lagi. Kamipun tergelak-gelak bersama. Malam makin larut, Bas sudah terlelap, mata Vanpun mulai terpejam walau masih nampak senyum di sudut bibirnya.

Aku mencium keduanya, di telinga Van ku bisikkan “Selamat tidur cantik! Kamu tambah ilmu baru hari ini!” Wajah-wajah polos tertidur dalam damai, mereka telah melewati satu hari dengan bersilahturahmi, bermain dan belajar. Semoga menambah wawasan kehidupan kalian, nak! (Icha, 4 Sept 2008)

Sunday, July 01, 2007

VANESSA KE DOKTER GIGI!

Minggu lalu aku membawa Vanessa ke dokter gigi. Kegemarannya makan permen dan coklat serta minum susu pada waktu tidur menyebabkan gigi Van rusak. Seharian dibuatnya aku tak bisa melakukan apa-apa karena obat yang kuberikan tak meringankan sakitnya. Setiap kali kutanya, "Apa yang sakit cantik?". Dengan setengah merengek Van menunjukan pipi kanannya sambil membuka mulut.

Aku memang melihat dua gigi graham bawah yang berlubang. Ku sentuh perlahan, Van makin mengaduh. "Sakitnya seperti apa?" tanya papanya. "Sakitnya pindah-pindah!' keluh Van sambil meringis. Aku menduga pasti sakitnya sangat menggigit dan cenut-cenut. Aku memberikan obat pereda rasa nyeri tapi tidak membantu.

Dengan manjanya Van mengatakan, "Kalau sakit bergini, enaknya digendong!" Aku tergelak-gelak dan ku katakan "Tidak ada kaitannya kaki dengan gigi". Soalnya berat badan Van suah cukup lumayan dan aku tak mampu lagi menggendongnya.

Jadi ku bujuk untuk berpelukan saja. Kami berbaring di tempat tidur dan berpelukan. Aku mengusap-ngusap punggungnya dan membisikan cerita-cerita, agar Van terlupa dengan sakitnya. Sesekali papanya menggoda dan membuatnya tertawa. Aku dan papanya membujuk dan mengatakan akan membawanya ke dokter gigi untuk disembuhkan. Untunglah Van anak yang berani jadi ia menyetujui ajakan ke dokter gigi. Akhirnya dengan masih tersedu-sedu Van tertidur.

Bertiga kami ke RS sakit. Jadual dokter gigi untuk anak-anak ada pada hari Sabtu. Sejak kemarin Bas menginap di rumah adik papanya. Jadi aku dan pasangan leluasa membawa Van ke dokter gigi.

Ini adalah kali pertama Van berkunjung ke dokter gigi. Aku agak khawatir karena menurut dugaanku, Van tidak takut karena Van tidak tahu akan di apakan saat di dokter gigi. Kami sempat menunggu karena pasien cukup banyak. Ketika nama Vanessa di panggil, Van dengan sigap menggandengkku masuk. Papanya menjauh karena memang takut dengan peralatan kedokteran khususnya dokter gigi.

Van dengan penuh rasa ingin tahu langsung naik ke kursi dan memperhatikan dengan serius peralatan kedokteran gigi di sekitarnya. Kursi besar berlengan dan diatasnya ada semacam lengan besi yang berisi peralatan serta lampu. Di sisi kiri Van ada gelas berisi air dan wadah untuk membuang air sisa kumur-kumur.

Melihat keberanian Van, aku jadi teringat beberapa tahun lalu ketika membawa kakaknya, Bas ke dokter gigi. Keberanian keduanya tak jauh berbeda. Aku tak menemukan kesulitan apa-apa membawa kedua anakku ke dokter gigi. Bahkan dokter gigi Bas dulu, seorang ibu yang mempunyai 3 anak semuanya perempuan. Jadi bu dokternya sangat menyukai Bas. Kebetulan bu dokter sudah pernah bertemu dengan Bas beberapa kali saat menemani sepupunya ke dokter yang sama.

Dari dua dokter gigi yang berbeda, aku menemukan kesamaan. Kedua dokter yang kebetulan dua-duanya perempuan, sangat ramah dan telaten saat menghadapi pasien anak-anak. Dokter gigi Bas bahkan memberikan Bas kacamata untuk dikenakan agar tak silau ketika lampu dinyalakan. Aku tersenyum geli karena Bas bergaya ala model, dengan tangan diletakkan dipinggang walau mulutnya membuka saat lampu dinyalakan.

Sedangkan Vanessa lain lagi. Van menceritakan sendiri apa yang dirasakan dan minta bu dokter menghilangkan sakitnya. Bahkan Van menambahkan tadi malam sudah berdoa minta Tuhan sembuhkan tapi belum sembuhnya. Bu dokter tersenyum dan menjawab dengan bahasa yang mudah dipahami Van.

Aku terbiasa bernyanyi saat menggosokkan gigi kedua anakku. Jadi suka kusenandungkan kuman-kuman yang gendut dan berwarna-warni itu harus pergi dari gigi. Saat Van mengatakan yang gendut warna orens dan hijau tak mau pergi, bu dokter agak bingung. Dengan cepat ku jelaskan. Bu dokter tertawa geli.

Saat pemeriksaan dilakukan, ditemukan beberapa gigi berlubang yang harus di tambal. Bersamaan alat bor bekerja pada gigi Van, papanya masuk. Papanya langsung keluar karena merasa linu dan ngeri. Aku sempat was-was takut Van akan berontak. Benar saja wajah Van berubah dan terdengar keluhan Van.

Bu dokter mengatakan kalau merasa sakit jangan bergerak tapi angkat tangan. Van bagaikan orang ditodong langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Bu dokter menghentikan dan membiarkan Van berkumur-kumur. lalu Bu dokter kembali bertanya, apakah bisa dilanjutkan? Van mengangguk dan meletakkan kembali kepalanya pada sandaran kursi.

Pada proses pengobatannya kembali Van merasa sakit. Akhirnya dari 3 gigi yang harus ditambal tapi baru dua, Van sudah minta dihentikan. Aku mengiyakan dan berjanji pada dokter untuk kembali secepatnya. Yang penting dua gigi yang menyebabkan Van merasa sakit sudah diatasi.

Bu dokter berpesan, agar sesudah minum susu harus kumur-kumur dengan air putih. Berhenti makan permen atau coklat sampai giginya sembuh dan kalau sudah sembuh makan permen atau coklat tidak boleh banyak-banyak serta harus tetap rajin menggosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur.

Van memang baru berusia 4 tahun tapi ia menerima nasehat dokter dengan senang dan hal itu diterapkannya di rumah. Dengan kesadarannya sendiri Van tidak meminta permen atau coklat. Sesudah makan ia mengajakku gosok gigi dan sesudah minum susu walau tangeh malam, Van mau bangun untuk berkumur-kumur dengan iar putih.

Kini gigi Van sudah sembuh dan cerianya sudah kembali. Rumahku kembali ramai dengan suara centilnya. Vanessaku yang lucu memang sangat gemar bernyanyi. Suara yang riang selalu menjadi pendorong semangat hidupku. Walau kalau sedang rewel atau nakal aku kesal juga dibuatnya. Tapi terlepas dari semua itu ke dokter gigi bersama Van menjadi pengalaman yang menyenangkan. Anakku sudah mampu menyampaikan apa yang di rasakannya. Langkah awal bagiku untuk meneruskan keberaniannya mengeluarkan pendapatnya. (Icha Koraag,30 Juni 2007)

Tuesday, May 01, 2007

PUISI PERTAMA BAS & TROPHY PERTAMA VAN

Orang tua mana yang tak kan bangga menerima karya pertama dan piala pertama anaknya. Perasaan bahagia itulah yang kini tengah melingkupi aku dan suamiku, terutama aku. Aku ibunya! Soalnya aku tak bisa mengatas namakan perasaan suamiku. Walau aku yakin, suamiku juga sama bangga dan gembiranya seperti aku.

Minggu lalu Van menunjukkan piala pertamanya atas prestasi juara II lomba matematika dan Bas menunjukkan karya pertamanya berupa sebuah puisi. Sebelumnya Bas kerap pulang sekolah dengaa membawa gambar-gambar karyanya. Aku senang. Tapi karya puisinya menimbulkan perasaan yang berbeda padaku. Pokoknya perasaanku campur aduk, agak sulit menggambarkannya.

Aku tengah memasak ketika kedua anakku pulang sekolah. Bas berteriak memanggilku demikian juga Van dengan suara gembira. Tergesa-gesa aku meninggalkan dapur dan menyongsong keduanya.. Van masih sibuk melepas sepatu karena kedua tangannya memegang sebuah trophy.

“Halo, ada apa ini?” tanyaku sambil berlutut membantu melepas sepatu Van.
“Van dapat piala” ujar Bas sambil memelukku dari belakang.
“Iya, ini piala nya” Ujar Van sambil mengacungkan piala ke wajahku.
“Wow, piala apa itu?”
“Aku juara I love math “ujar Van
“Hebat kan ma?’ Tanya Bas
“Oh yah, itu hebat. Wah anak mama hebat betul!”ujarku lalu memluk dan mencium Van, kemudian memperlakukan sama pada Bas.
“Siapa yang kasih Van?” tanyaku lagi
“Ibu Sari, terus aku di cium” Jawab Van
“Siapa lagi yang dapat piala?” tanyaku
“Justin, dia nomor satu!” jawab Van.
“Coba mama lihat” pintaku.

Kemudian Van memberikan trophy itu. Ada perasaan yang menggedor-gedor dadaku. Ini prestasi pertama Van. Jujur, aku tak mentargetkan mereka harus menjadi juara, aku hanya memotivasi dan mendorong kedua anakku untuk menjadi yang terbaik. Kalau hasil akhirnya sebuah penghargaan itu kuanggap sebagai nilai lebih.

Sebenarnya beberapa hari sebelumnya, aku sudah mendengar informasi dari sekolah mengenai lomba ini. Waktu itu suamiku mengatakan, Van pasti juara. Tapi aku tak terlalu menggubris keyakinan suamiku. Aku cuma tahu, Van memang sudah mengenal angka, warna dan bentuk dengan baik. Tapi aku tak tahu matematika untuk “play group” seperti apa. Namun demikian, prestasi Van tetap saja sebuah kejutan manis buatku.

Tanpa setahuku, Bas memperhatikan sikapku terhadap Van. Lalu ia mendekatiku.
“Aku juga punya piala kan ma?” tanyanya. Aku tersentak dan langsung memeluk Bas. Tak ada sedikitpun keinginan memberikan perlakukan yang berbeda pada kedua anakku.
“Yah, bahkan Bas punya dua piala” kataku. Keduanya diperoleh Bas ketika masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Salah satunya sebagai juara II lomba Paduan Suara antar TK th 2005.
“Ma, aku buat puisi untuk mama loh!” tiba-tiba Bas mengejutkanku dengan pernyataannya.

Jujur, pernyataan ini lebih mengaduk-aduk perasaanku. Karena aku adalah orang yang gemar merangkai kata dan tak pernah membayangkan ada diantara anakku yang mengikuti jejakku. Terlalu pagi memang, menganggap Bas mewarisi minatku dalam merangkai kata. Namun berharap tentu tak ada salahnya.

“Maksud Bas?” tanyaku dengan penasaran
“Aku buat puisi untuk mama!” Ujarnya lagi.
“Mana?” tanyaku
“Masih di ibu guru, nanti kalau dikembalikan aku kasih lihat mama!” ujarnya dengan mata berbinar.

Rasanya aku ingin berteriak kegirangan tapi hanya air mata yang nyaris tumpah karena rasa haru. Suamiku tahu perasaanku, ia menggodaku sambil berkata berkata “Senang tuh, anaknya bikin puisi!”
“Oh jelas. Jelas mama senang banget!” kataku dengan tegas sambil tertawa. Aku tak perlu menyembunyikan rasa bahagia dan bangga itu.

Saat itu juga juga puji syukur dan terima kasih kunaikkan dalam doa kepada Dia yang memberikan kebahagiaan ini. Tuhan maha baik! Sungguh membahagiakan! Ingin rasanya kebahagiaan ini kuteriakan kepada dunia. Ini anak-anakku. Aku bangga dan sangat mencintai mereka.

Beberapa hari kemudian, saat pulang sekolah, Bas membawa puisi karyanya. Di tulis tangan di atas selembar karton biru dihiasi berbagai ornamen buatan tangan. Aku tak ingin menangis tapi rasa haru itu membuat anak sungai di mataku mengalir tak terasa, inilah karya Bas.

PUISI UNTUK MAMA

Kau sungguh cantik kau selalu menemaniku
Aku selalu menyayangimu
Adikku juga menyayangimu

Mamaku kau menyayangiku
Teman-temanku menyayangimu
Kau kembali dengan cepat
Kau selalu mengajakku jalan-jalan

Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa
Kelas I B
SD Lemuel II

Ketika kutuliskan puisi ini dan mengetik namanya dengan nama kesehariannya Bastiaan, Bas meralatnya dan menuliskan lengkap seperti yang tertera di atas. Ku biarkan Bas melakukan hal itu karena aku percaya itu juga menunjukkan kebanggaan Bas atas nama yang orang tuanya berikan.

Oh yah, kalimat pertama dalam puisi Bas, kupikir adalah ungkapan biasa yang dinyatakan setiap anak, begitu juga kalimat-kalimat selanjutnya. Namun pada kalimat “Kau selalu pulang cepat!” cukup menyesakkan dadaku. Pernyataan itu menunjukkan komitmenku untuk berusaha cepat pulang setelah bertugas di luar kota. Kalimat itu membuat aku tahu, Bas meyakini janjiku karena aku menepatinya.

Itulah yang membuat mengapa puisi itu sangat mengaduk-aduk perasaanku. Aku tahu, aku menuntut Bas menjadi “dewasa” melebihi usianya. Bila aku akan bertugas keluar kota, serangkaian pesan dan harapan selalu ku sampaikan padanya. Kadang ada perasaan bersalah yang sedikit mengusik hati ini. Tapi aku mencoba tegar dan meyakini, apa yang kulakukan adalah demi memberikan yang terbaik bagi kedua anakku.

Membaca puisi Bas, aku tahu harapanku terkabul. Aku tahu Bas memahami mengapa aku harus sering-sering pergi meninggalkannya. Keterbukaanku pada Bas adalah bagian dalam menjadikan Bas memahami tugasku sebagai orang tua dan tugas Bas sebagai anak.

Perjalananku sebagai orang tua masih panjang. Kadang aku meragukan kemampuanku dalam mendampingi kedua anakku. Mampukah aku? Sebagai manusia biasa sungguh aku memiliki kemampuan yang terbatas tapi aku percaya dengan mengandalkan kuasa dan kekuatanNya, aku takkan gagal. Kalaupun aku gagal, aku tahu Tuhan punya rencana lain untuk hidupku, hidup kedua anakku juga hidup keluargaku.

Lagi-lagi hanya berpasrah dan bersyukur yang menjadi kekuatanku dalam membimbing dan membesarkan kedua anakku. Semoga hari-hari mendatang mereka akan terus mengukir prestasi yang bermanfaat bagi banyak orang di dalam mengisi kehidupan. Karena bagiku jauh lebih berarti menjadi orang yang berharga bagi kepentingan banyak orang ketimbang berprestasi bagi diri sendiri.

Bas, Van, mama bangga pada kalian.!

Jakarta, 30 April 2007

Wednesday, February 28, 2007

UNGKAPKAN RASA KESAL!

Kepalaku nyaris sakit karena laporan Bas dan Van secara bergantian mengenai kelakuan mereka. Artinya Bas akan melaporkan atau mengadukan prilaku Van dan sebaliknya Van pun akan mengadukan prilaku Bas. Padahal bukan sekali dua kali aku menekankan bahwa mama paling tidak suka dengan anak pengaduan.

Maksudku, aku tak ingin kedua anakku selalu mencari penyelesaian lewat orang ketiga walau orang ketiga itu adalah aku, mamanya. Karena aku menginginkan mereka bel;ajar menyelesaikan persoalan yang mereka timbulkan sendiri. Aku ingin mereka mengambil inisiatif dan menerapkan aturan yang timbul dalam permainan yang sedang mereka mainkan.

Dan inilah hari-hari yang kulalui dengan kedua anakku Bas dan Van. Pada keduanya aku lebih banyak menerapkan aturan umum. Misalnya, bagaimana bersikap yang baik walau hati sedang kesal. Bas sempat memprotesku .

“Itu namanya berdusta dong kalau lagi kesal tapi pura-pura tidak kesal.!” Ujar Bas
“Bukan berdusta, kita tidak perlu menunjukkan kekesalan kita, dengan menghindar, misalnya!” jawabku
“Darimana orang lain tahu kalau kita sedang kesal?” tanya Bas lagi
“Apa perlu orang lain tahu kalau Bas sedang kesal?” ujarku balik bertanya
“Yah tidak perlu sih!” jawabnya
“Nah, gampangkan!” ujarku
“Kalau kita kesal dengan orang itu?” Tanya Bas penasaran
“Kesal dengan orang itu atau karena perbuatannya?”
“Perbuatannya!” jawab Bas.
“Kalau perbuatannya membuat Bas kesal, katakana saja pada orang itu. Katakan Bas tidak suka dengan perbuatannya karena apa” kataku
“Karena perbuatan itu tidak betul!” kata Bas lagi
“Misalnya?”
“Van suka main curang!”
“Bukan curang, Van belum sepandai Bas, jadi ada aturan mainan yang belum dipahami Van. Tugas Bas mengajar Van sampai mengerti, sehingga Van tidak bermain curang.” Ujarku panjang lebar
“Tapi aku suka kesal karena Van tidak mau mendengar kata-kataku!” ujar Bas
“Kalau Bas bicaranya setengah berteriak, pasti Van tidak mau dengar. Tapi kalau Bas bicara baik, pasti Van mau dengar. Kalau Van tetap tidak mau dengar, baru Bas bilang sama mama!’ jawabku
“Ya, ma!” jawab Bas
“Nah sekarang masih mau main sama Van?” tanyaku
“Iya” Jawab Bas.
“Mari sekarang peluk mama!:” ujarku sambil mengembangkan kedua tanganku. Bas masuk dalam peluikanku. “Terima kasihku Tuhan, kau percayakan Bastiaan dalam pengasuhanku!” Doaku dalam hati.

Memang bukan hal mudah bagi Bas untuk bermain dengan Van, jarak usia tiga tahun membuat kemampuan mereka tidak berimbang. Tapi aku percaya Bas mampu menjadi kakak yang baik. Cuma memang aku harus banyak berbicara dan mengajarkan Van tentang aturan main dan aturan kedisiplinan. Kadangkala Van sangat yakin ia selalu dimenangkan lantaran tahu lebih kecil dari Bas. Ada tahapan lain dimana aku merasa Van lebih matang dari usianya, tapi ada juga kemampuannya yang tetap belum berimbang dengan kemampuan Bas.

Di sela-sela aku mengetik di komputer, Bas dan Van berulang-ulang menginterupsiku untuk menanyakan King dan Queen, atau antara As dan Joker, mana yang menang. Waktu banjir yang lalu, cuaca membuatku tak mengizinkan mereka bermain sepeda di luar rumah. Sebagai gantinya aku mengajari mereka main kartu dan itu tadi hasilnya.

Bersama Bas dan Van, membuat aku semakin banyak belajar memahami tumbuh kembang mereka. Bukan semata pertumbuhan dan perkembang fisik tapi juga pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan mereka. Mudah-mudahan aku belum terlambat mengukir masa kecil yang menyenangkan untuk mereka. Aku tak berharap mereka mengenangku sebagai ibu yang baik, aku ingin mereka mengenang masa yang menyenangkan bersamaku.

Karena masa itu tak akan pernah terulang. Dan bila aku melakukan kesalahan, tidak akan pernah bisa diperbaiki. Bahkan hanya meninggalkan penyesalan. Dan sebelum itu terjadi, aku berusaha tidak terjadi agar penyesalan dikemudian hari tak pernah ada. (Icha Koraag, 20 Februari 2007)

MELIHAT MOTIVASI ANAK

Hari ini aku menjemput Van di sekolah. Jam pulang sekolah Van dan Bas berjarak sekitar satu jam, Van selesai belajar pukul 10.00 dan Bas pukul 11.00. Untuk kepraktisan aku memilih sekaligus menunggu Bas.

Seisi kelas Van membentuk barisan dan berjalan beriringan keluar kelas. Sampai ke halaman utama sekolah. Satu persatu murid di serahkan pada yang menjemput.

Setelah menerima Van, aku menggiring Van ke kantin sekolah untuk menunggu Bas. Van dengan cerewetnya mulai melaporkan kejadian di kelas.

“Ma, tbuku menggambarku di robek!” Cerita Van sambil meminum teh manis yang ku bawa dari rumah.

“Sama siapa?” tanyaku heran

“Sama Justin” Jawab Van lagi

“Loh mengapa begitu? Ibu guru bilang apa?” tanyaku terkejut

“Ya ibu guru marah. Kata ibu guru, Justin tidak boleh begitu!’ Jawab Van

“Justin di pukul?” tanyaku ingin tahu

“Tidak sih, Cuma kata ibu guru Justin harus minta maaf sama aku” jawab Van

“Memang Van bikin apa sama Justin?” tanyaku

“Aku tidak bikin apa-apa, Justin memang nakal!” Vonis Van dengan penekanan pada kata Nakal.

“Besok mama tanya sama ibu guru yah!” ujarku. Van hanya mengangguk.

Merobek buku gambar adalah masalah kecil tapi bukan itu inti permasalahannya. Perbuatan merusak barang baik milik sendiri atau milik orang lain adalah perbuatan yang tidak baik. Perbuatan inilah yang harus mendapat perhatian. Sebagai orang tua, perlu melihat apa motivasi yang dilakukan si anak.

Aku jadi ingat, satu masa Bas pernah menjadi anak yang merusak. Bas kerap memukul-mukulkan mainnanya ke lantai hingga pecah. Akhirnya aku dan Frisch hanya memberikan mainan yang terbuat dari karet atau plastik sehingga tidak bisa pecah. Bukan harga barang yang kukhawatirkan tapi kekhwatiran Bas akan terlukan karena pecahan barang tersebut.

Maka aku dan Frisch melakukan observasi, untuk melihat apa yang menyebabkan Bas merusak mainannya. Ternyata mulanya, Bas asik mendengar bunyi yang di timbulkan dari mainan yang dipukul-pukul ke lantai. Ia tertawa senang tapi makin lama ia memukulnya makin tak beraturan.

Frisch berinisiatif memberikan ember plastik mainan dan sendok plastik. Lalu Frisch juga membuatkan tambur dari kaleng biscuit yang di tutup dengan plastik dan diikat dengan kuat. Untuk pemukulnya Frisch membuatnya dari sendok plastik yang ujungnya di ikatkan gumpalan kain lalu di ikat dengan karet.

Maka terciptalah satu set perkusi buatan Frisch yang masih dilengkapi dengan panci kecil untuk memanaskan susu dan kotak-kotak susu. Kami tertawa tergelak-gelak ketika alat perkusi mulai di mainkan. Dan yang membuat kami senang, Bas bukan merusak tapi ia bereksperimen dengan mainannya untuk mendapatkan bunyi-bunyian.

Lain haknya dengan Vanessa, Van tidak melewati tahapan ini. Mungkin karena dengan sendirinya saat Van bisa berinteraksi dengan oarng lain, ada Bas sebagai kakaknya sekaligus teman mainnya. Pernah juga Van merobek buku atau mencoret buku Bas tapi itu bukan karena ingin merusak, sebaliknya karena Van ingin turut belajar.

Setelah aku memberikan buku menggambar, buku mewarnai dan crayon, Van tidak lagi mengganggu Bas. Van menikmati kegiatannya sendiri.

Aku percaya bila seorang anak merusak barang milik sendiri atau barang orang lain, ada hal lain yang menyebabkannya. Karena itu aku dan suamiku selalu merasa perlu lebih dulu melihat latar belakang si anak hingga motivasinya bisa di ketahui dan pada akhirnya bisa di carikan cara mengatasinya sehingga perbuatan merusak si anak bisa di minimalkan.

Bagiku dan suami menjadi orang tua adalah hal baru. Setiap hari ada pelajaran baru yang kami pelajari. Mulai dari memahami peran kami sebagai penasehat maupun peran kami sebagai pelindung. Informasi dari orang tua, media ataupun berbagi pengalaman dari sesama kawan yang lebih dulu menjadi orang tua merupakan tambahan ilmu yang membuka wawasan kami.

Anak ibarat kertas putih, apa yang di tuliskan di atas kertas itu yang akan terjadi pada si anak. Siapa yang berhak menuliskan catatan di kertas itu adalah anak itu sendiri artinya ajaran, didikan dan pengalaman keseharian yang diterima anak dari orang-orang dilingkungan si anak akan terekam dan tercatat dalam kertas tersebut yang akan di aplikasikan si anak dalam prilakunya kelak.

Karena itu aku percaya yang akan di sampaikan pada si anak baik itu, peringatan, ajaran, anjuran, atau contoh perlu dilakukan dengan hati-hati karena anak mempunyai tahapan dalam petumbuhan dan perkembangannya sehingga kemampuan merekam di anak dalam tiap tahapan pertumbuhan dan perkembangannya pun tidak sama.

Aku menghindari, jangan sampai anak-anakku merekam hal benar dengan kemampuan yang terbatas hingga dipahami salah karena akan berdampak kurang baik dalam aktivitas selanjutnya. (Icha Koraag, 21 Feb 2007)